Harga Jual Naik, Laba Terus Meningkat

16 Nov 2018 10:31

Cuaca bersahabat memungkinkan target produksi tercapai.

Harga jual batu bara sepanjang sembilan bulan pertama 2018 cenderung naik secara konsisten disebabkan oleh permintaan global yang terus bertumbuh. Harga jual yang lebih tinggi membuat kinerja keuangan perusahaan semakin kukuh pada periode ini.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITM) mencatat harga jual rata-rata USD 84,2 per ton pada periode sembilan bulan pertama 2018, naik 20% dari USD 70,3 per ton pada kurun yang sama tahun lalu.  

Perusahaan pada sembilan bulan pertama tahun ini membukukan penjualan bersih USD 1.415 juta, atau lebih tinggi 22% daripada penjualan bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya di USD 1.164 juta.

Sama dengan sembilan bulan pertama tahun lalu, marjin laba kotor tercatat 30% pada periode yang sama tahun ini, sedangkan EBIT (Pendapatan Sebelum Bunga dan Pajak)  tercatat USD 321 juta atau 20% lebih tinggi secara year-on-year. Dengan indikator kinerja keuangan yang positif tersebut, ITM pada sembilan bulan tahun ini mencatat laba bersih USD 197 juta atau 15% lebih tinggi daripada laba bersih pada periode yang sama tahun lalu. Adapun laba bersih per saham untuk periode ini tercatat USD 0,18.

Sampai dengan akhir September 2018, total aktiva ITM bernilai USD 1.473 juta dengan ekuitas USD 1.002 juta. Perusahaan mempertahankan posisi kas dan setara kas sebesar USD 351.3 juta tanpa hutang.

Perusahaan menjual 16,1 juta ton batu bara pada paruh sembilan bulan pertama tahun ini. Batu bara dikapalkan ke  Jepang (3,1 juta ton), China (3,0 juta ton), India (2,2 juta ton), Indonesia (1,9 juta ton), Filipina (1,7 juta ton), Thailand (0,9 juta ton), dan negara-negara lain di  Asia Timur, Selatan, dan Tenggara. Dari target volume penjualan 24,2 juta ton untuk tahun ini, 98% telah terjual.

Cuaca yang bersahabat sepanjang kurun waktu tersebut memungkinkan perusahaan untuk menggenjot produksi sehingga target volume produksi untuk sembilan bulan pertama 2018 tercapai. Perusahaan menghasilkan 15,7 juta ton pada periode tersebut, sejalan dengan target volume produksi 22,5 juta ton untuk tahun ini.

Untuk tahun 2018 perusahaan menjalankan beberapa strategi guna mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan energi. Pertama memaksimalkan nilai jangka panjang dengan menambah cadangan batu bara secara organik maupun nonorganik, memperkuat marjin melalui keunggulan operasional, memperbaiki produktivitas, dan penguatan proses bisnis.

Kedua, menangkap marjin sepanjang rantai nilai. Pembelian PT GasEmas tahun lalu, sebagai contoh, menghasilkan penghematan biaya bahan bakar serta memungkinkan tambahan pendapatan dan marjin dari pihak ketiga.

Perusahaan juga mengalokasikan belanja modal sebesar USD 40 juta untuk  anak perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan, PT Tambang Raya Usaha Tama (TRUST), guna meningkatkan produktivitas armada. Di samping itu, perusahaan juga manargetkan anak perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, PT ITM Indonesia, untuk memperoleh kontrak penjualan 2,5 juta ton batu bara. 

 

Perusahaan juga aktif mengevaluasi setiap kemungkinan investasi baru dan akuisisi untuk baik energi konvensional maupun energi terbarukan.

Kembali ke Berita