ITM Tambah Cadangan 77 Juta Ton

16 Agu 2018 10:46

NPR akan menambah keunggulan kompetitif bagi portofolio tambang-tambang di Gugus Melak.

PT Indo Tambangraya Tbk. (ITM) pada paruh pertama 2018 terus mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan energi dengan menambah cadangan batu bara sebesar 77 juta ton setelah mengakusisi 100% saham PT Nusa Persada Resources (NPR) dengan nilai pembelian USD 30 juta.

Memiliki Izin Usaha Pertambangan untuk wilayah konsesi 4.291 hektar di Kalimantan Tengah, NPR berada dalam Gugus Melak bersama tiga anak perusahaan ITM lainnya, yaitu Bharinto Ekatama (BEK), Trubaindo Coal Mining (TCM), dan Tepian Indah Sukses (TIS). 

NPR akan menambah keunggulan kompetitif bagi portofolio tambang-tambang di Gugus Melak dengan cadangan batu bara bernilai kalori 5.500 kkal/kg.

Pembangunan prasarana tambang direncanakan berlangsung tahun depan dengan produksi perdana pada tahun 2022. 

Adapun kinerja ITM dalam paruh pertama 2018 tetap kukuh di tengah curah hujan yang menahan produksi. Perusahaan mencatat laba bersih USD 103 juta pada paruh pertama 2018, turun tipis 3% dari USD 105 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata harga jual batu bara pada paruh pertama USD 80,9 per ton, naik 18% dari USD 68,4 per ton pada periode yang sama tahun lalu.  

Kenaikan rata-rata harga batu bara global disebabkan oleh permintaan yang meningkat terutama di China karena pasokan dalam negeri yang terbatas yang berlanjut sampai awal tahun ini.

Perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar USD 809 juta, naik 8% dari USD 749 juta pada periode yang sama tahun lalu. Marjin laba kotor pada kurun waktu ini sama dengan marjin laba kotor pada kurun waktu tahun sebelumnya, yaitu 28%, sedangkan EBIT naik  4% menjadi USD 167 juta secara year-on-year. Laba bersih per saham untuk periode ini tercatat USD 0,09.

Sampai dengan akhir paruh pertama 2018, total aktiva ITM bernilai USD 1.310 juta dengan ekuitas USD 899 juta. Perusahaan mempertahankan posisi kas dan setara kas sebesar USD 268 juta tanpa hutang. 

Perusahaan menjual 9,6 juta ton batu bara pada paruh pertama, lebih rendah 12% dibanding tahun sebelumnya. Batu bara dikapalkan ke  Jepang (1,7 juta ton), China (1,5 juta ton), Filipina (1,2 juta ton), India (1,1 juta ton), Indonesia (1,1 juta ton), Thailand (0,6 juta ton), Korea Selatan (0,5 juta ton), dan negara-negara lain di  Asia Timur, Selatan, dan Tenggara. Dari target volume penjualan 25 juta ton untuk tahun ini, 87% telah terjual.

Volume penjualan turun disebabkan oleh produksi yang lebih rendah akibat curah hujan yang deras. Perusahaan menghasilkan 9,3 juta ton pada semester dengan target volume produksi 22,5 juta ton untuk tahun ini. 

Untuk tahun 2018 perusahaan menjalankan beberapa strategi guna mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan energi. Pertama memaksimalkan nilai jangka panjang dengan menambah cadangan batu bara secara organik maupun nonorganik, memperkuat marjin melalui keunggulan operasional, memperbaiki produktivitas, dan penguatan proses bisnis.

Kedua, menangkap marjin sepanjang rantai nilai. Pembelian PT GasEmas tahun lalu, sebagai contoh, menghasilkan penghematan biaya bahan bakar serta memungkinkan tambahan pendapatan dan marjin dari pihak ketiga. 

Perusahaan juga mengalokasikan belanja modal sebesar USD 40 juta untuk  anak perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan, PT Tambang Raya Usaha Tama (TRUST), guna meningkatkan produktivitas armada. Di samping itu, perusahaan juga manargetkan anak perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, PT ITM Indonesia, untuk memperoleh kontrak penjualan 2,5 juta ton batu bara.  

Perusahaan juga aktif mengevaluasi setiap kemungkinan investasi baru dan akuisisi untuk baik energi konvensional maupun energi terbarukan.

Kembali ke Berita